“Ondol”, potret evolusi pemanfaatan energi surya di Korea

14 05 2007

Oleh: Rachmat Adhi Wibowo

Orang Korea memiliki tradisi yang unik dalam mengatasi musim dingin yang datang pada periode November-Januari. Sebagaimana cuaca di Korea pada umumnya yang fluktuatif, di musim dingin penurunan suhu yang begitu drastis jamak ditemui sehingga membutuhkan sebuah usaha ekstra untuk membuat tubuh atau situasi sekitar yang tetap mendukung aktifitas keseharian orang Korea. Menurut penuturan seorang rekan yang juga seorang ahli architechtural landscape, tradisi mengatasi dingin ini hanya ada di Korea Selatan (dan mungkin pula di tetangga jiran Korea Utara). Tradisi yang dimaksud ialah rumah yang dilengkapi dengan lantai berpenghangat yang disebut dengan ondol.

Mengingat aktifitas serta budaya orang Korea pada umumnya yang makan, tidur, belajar, bercengkrama dan menghabiskan sebagian besar waktunya di atas lantai rumah atau ruangan tanpa mempergunakan tempat duduk. Ondol merupakan salah satu bentuk pilihan paling praktis untuk tetap hangat selama musim dingin yang beku.

Ondol, Dahulu dan Kini

Ondol tetap eksis dipergunakan sejak ribuan tahun lampau oleh orang Korea. Banyak orang Korea percaya bahwa Ondol pertama kali ditemukan di masa Tiga Kerajaan (The Three Kongdom, Koguryo ) tahun 37 SM ketika kelebihan panas dari tungku mulai dimanfaatkan untuk menghangatkan rumah pada saat musim dingin. Meski pada masa awal periode pembangunan ekonomi Korea Selatan sistem pemanas a la Barat sempat mewabah dan menjauhkan pemakaian Ondol di rumah dan bangunan Korea, namun sejak 1990-an, para pengembang perumahan mulai kembali melirik dan menerapkan sistem pemanas warisan nenek moyang mereka yakni Ondol secara integratif di rumah-rumah maupun bangunan modern lain di Korea.

Pada prinsipnya, Ondol merupakan sebuah sistem penghangat ruangan yang alih-alih berupa tungku api dan cerobong asap atau pemanas (heater) yang biasa tertempel di dekat dinding, dia justru merupakan bagian intengral dari rumah itu sendiri, lebih tepatnya sebuah lantai yang terintegrasi dengan sistem penghangat. Pada rumah tradisional Korea zaman dahulu, Ondol memiliki komponen utama berupa sebuah tungku tempat pembakaran sebagai sumber panas yang diletakkan tepat di bawah rumah, dan sebuah cerobong asap untuk mengeluarkan asap panas.

Konsekuensi dari teknik penerapan sistem pemanas ini ialah lantai rumah penduduk Korea yang relatif lebih tunggi di atas permukaan tanah. Agar lantai dapat menyerap dan mendistribusikan panas ke seluruh ruangan, lantai rumah disusun dari pondasi batu yang permukaannya dilapisi dengan tanah liat dan karpet kertas tebal tahan panas seperti kertas minyak pada lapisan teratas. Karpet inilah yang mendistribusikan panas secara merata dari lantai batu ke seluruh ruangan.

Distribusi panas dari Ondol ke ruangan mengikuti prinsip-prinsip fisika-termodinamika; yakni udara panas akan naik ke atas sedangkan udara dingin akan cenderung turun ke bawah. Lantai ondol menghangatkan ruangan dengan jalan konveksi. Molekul-molekul udara dingin di dalam ruangan yang bersentuhan dengan lantai akan menjadi hangat akibat transfer energi panas dari lantai ondol ke molekul udara. Molekul udara yang hangat ini akan naik dan bersentuhan dengan molekul udara dingin lain di atasnya untuk kembali mentrasnfer energi panas dan seterusnya terjadi pada molekul udara lain sehingga pada puncaknya terjadi kesetimbangan suhu proporsional dengan waktu. Dengan mengatur suhu dan lama pemanasan tungku, suhu di dalam ruangan dapat pula disesuaikan agar yang di dalamnya tetap merasa nyaman serta tentunya tidak kedinginan.

Seiring dengan perkembangan zaman serta teknologi, ondol pun mengalami evolusi. Jika zaman dahulu sumber panas dapat diperoleh dengan membakar kayu di dalam tungku, seiring dengan penggunaan minyak, peran kayu pun tergantikan. Jika zaman dahulu asap panas dipergunakan sebagai fluida yang memanasi lantai, saat ini yang digunakan ialah air panas yang disirkulasikan pada jaringan pipa di bawah lantai. Salah satu pertimbangannya ialah demi menghindari gas karbon monoksida yang terjadi dari pembakaran tidak yang berpotensi bocor ke dalam rumah via retakan-retakan kecil di lantai.

Meski penggunaan di masa sekarang ini minyak masih banyak ditemui di rumah-rumah di pedalaman atau dipedesaan Korea, pemanas gas (gas boiler) yang jauh lebih praktis dan murah menggatikan peran minyak untuk memanasi air. Bentuk fisik pondasi lantai tempat Ondol pun disesuaikan dengan penggunaan semen atau beton coran lapis tunggal tanpa mempergunakan lapisan-lapisan batu maupun tanah sebagaimana ditemui di rumah-rumah tradisional Korea zaman dahulu.

Satu-satunya yang tetap dipertahankan hingga sekarang ialah keberadaan karpet minyak yang berfungsi layaknya ubin di Indonesia. Mengingat fungsi vitalnya sebagai distributor panas, agaknya karpet ini tidak dapat tergantikan. Hanya saja, warnanya bervariasi, jika dahulu berwarna kuning, maka karpet minyak modern ini memiliki aneka pola dan warna; dari cokelat kayu, kuning atau coklat tua sebagai bahagian dari arsitektur ruangan.

Bertenaga matahari

Dengan menguatnya kebijakan pemerintah Korea Selatan dalam menggencarkan pemakaian energi terbaharukan dan ramah lingkungan, penggunaan ondol sebagai sistem penghangat ruangan pun terus mengalami penyesuaian. Bermula dari makin banyaknya penggunaan pemanas surya atau solar heater di rumah-rumah untuk menyediakan air panas, gagasan untuk memanfaatkan pamanas surya sebagai sumber panas bagi ondol pun muncul ke permukaan. Pemanas surya mulai diproyeksikan untuk menggantikan peran gas sebagai pemanas gas boiler.

Pada ondol bertenagakan sinar matahari ini, tidak ada perubahan mencolok pada sistem pemanasan maupun prinsip kerjanya. Perubahan hanya menyentuh sumber panas yang dipergunakan.

Pemanas surya menangkap panas yang dibawa oleh sinar matahari melalui lembaran-lembaran aluminium yang permukaannya dilapisi dengan lapisan khusus guna mengefektifkan penyerapan panas. Tepat di belakang lembaran aluminium tersebut, terdapat pipa-pipa yang di dalamnya terdapat fluida -biasanya minyak- yang berfungsi menghantarkan panas dari lembaran-lembaran aluminium. Pipa-pipa fluida ini dihubungkan ke sebuah tangki penyimpan air panas di mana suhu air di dalam tangki akan bertambah ketka fluida panas mulai mengalir. Tangki penyimpan ini didesain agar dapat menjaga air tetap panas dalam jangka waktu tertentu misal malam-hingga pagi hari.

Pengalaman penulis yang pernah tinggal di sebuah rumah prototipe dengan energi tenaga matahari (Yeungnam University Solar House) selama kurang lebih 12 bulan pun merasakan manfaat ondol bertenaga matahari ini di kala musim dingin. Berbeda dengan menggunakan gas atau minyak, kita tidak dpusingkan dengan harga gas dan minyak yang dipakai untuk menghangatkan rumah karena pemanas surya terus bekerja secara otomatis selama sinar matahari ada. Tidak ada perbedaan tingkat kehangatan ruangan antara menggunakan ondol konvensional (dengan gas atau minyak) dan menggunakan ondol bertenaga matahari. Diyakini bahwa dengan menggunakan pemanas surya, biaya yang keluar untuk berlangganan gas atau minyak dapat jauh tereduksi selain turut menghemat energi fosil. Pemanas surya yang dipergunakan pun relatif murah dan berumur pakai yang cukup lama. Hanya perlu perhatian khusus pada tangki penyimpan panas dan perawatan berkalanya. Selain itu, air panas dari pemanas surya ini dapat pula digunakan untk keperluan lain semisal mandi maupun mencuci piring.

Sebuah evolusi panjang dari perpaduan teknik warisan leluhur dengan konsep baru teknologi yang memanfaatan energi terbaharukan.
—-
Penulis ialah pemerhati energi surya, sekarang tengah merampungkan studinya di Yeungnam University, Gyeongsan, Korea.


Actions

Information

6 responses

23 05 2007
novi

saya novi, mau tanya nih. ehm sejak kapan ondol ini menjadi budaya masyarakat korea?yang kedua, apakah ondol ini hanya digunakan saat musim dingin saja? lalu negara lain indocina seperti jepang, cina,taiwan atau yang lainnya juga memakai sistem ini?dan apakah ondol ini memang kebudayaan yang datang dari korea ?tolog balas pertanyaan ini kalau bisa disertakan gambar sistem tradisional dan modernnya serta history dari ondol.terimakasih soalnya buat paper saya…… kalau bisa secepatnya

28 11 2007
cHEe_cHeEn

😆 tHx yAwH…… dHe wRiTeR,…..🙄😉:mrgreen: cOz oF U,….😉 I caN gIvE mY hOmEwOrK oN
tiMe……😀

4 12 2007
hendra W.P

saya hendra mau tanya, Penggunaan energi surya bagi pedesaan, dalam negeri dan luar negeri itu apa?
thnx….

5 05 2008
nian

hai,,,gw nian.ada beasiswa korea S2 ga n persyaratannya pa aja? atau da ga lowongan gawe di korea n persyaratannya pa?kalo da tolong email gw yah di nian_him2@yahoo.com.thanks sebelumnya

12 11 2008
tanagekeo

Informasi menarik. Saya pernah beberapa bulan berkelana di Korea. Sempat sewa kamar di Seoul dan lebih banyak di Changwon.

23 01 2009
Hannia

Di seoul ada tempat tinggal hrgnya 200rb won/bln ga?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: