Evolusi Makanan

1 02 2007

Oleh: Hendry 

Pernah dengar cerita orang Korea membawa kimchi untuk konsumsi sendiri saat berpergian ke luar negeri untuk waktu yang singkat? Beberapa waktu yang lalu seorang teman (mahasiswa asing) melakukan perjalanan bersama rombongan tim promosi kampus saya ke negara asalnya. Setelah berada di tujuan, saat makan siang salah seorang anggota tim mengeluarkan kimchi yang dia bawa dari Korea untuk menemani makan siang mereka. Mungkin anda akan tertawa mendengarnya, tapi ini benar-benar terjadi. Saya juga tertawa pada saat pertama kali mendengarnya.

Pengalaman pribadi saya melakukan perjalanan bersama orang korea mungkin sedikit kurang fanatik dari cerita diatas. Bersama pembimbing saya, kami beberapa kali harus ke luar negri untuk mengikuti konferensi atau pun rapat. Walaupun pembimbing saya tidak pernah membawa kimchi sendiri, hal yang tidak pernah dilewatkan oleh pembimbing saya setiap kali sampai di tujuan adalah mencari informasi apakah ada restoran Korea yang dapat dicapai dari hotel tempat kami menginap. Bila ada, dapat dipastikan bahwa menu makan kami selama perjalanan itu akan didominasi oleh menu Korea.

Walaupun dari cerita di atas terlihat bahwa orang Korea sangat fanatik terhadap makanannya, tapi orang-orang dari negara lain (termasuk Indonesia) pun sebenernya tidak berbeda jauh. Harus diakui bahwa kita pun tidak jauh berbeda. Secara natural, setiap orang pasti berusaha mencari makanan yang biasa dimakannya. Saya masih ingat pada saat pertama kali datang dari Indonesia beberapa tahun yang lalu, saya membawa indomie goreng (merek tidak penting disebutkan disini). Beberapa teman mahasiswa dari negara lain mengekspresikan fanatisme terhadap makanan mereka melalui cara lain: mereka memilih untuk memasak sendiri walaupun itu sangat merepotkan.

Alasan mereka pada saat saya tanya, “Kami lebih suka makanan kami sendiri daripada makanan korea.” Respon saya saat itu, “Ya, tentu saja. Makanan negri sendiri pasti lebih enak.” Beberapa orang masak sendiri untuk setiap makanannya, beberapa orang yang lain masak secara berkala, sebagian yang lain masak pada waktu tertentu saja. Dua kelompok terakhir ini sangat berpeluang untuk segara beradaptasi dengan makanan lokal tempat mereka tinggal.

Derajat fanatisme terhadap makanan negri sendiri dapat diibaratkan seperti sifat elastis karet. Karet bila ditarik dia akan kembali ke bentuk semula. Tapi elastisitas karet itu berbeda-beda. Ada yang baru ditarik sedikit saja telah putus, tetapi ada yang dapat ditarik sampai mulur panjang sekali yang pada akhirnya putus juga bila ditarik terus. Ada orang yang fanatismenya rendah sehingga segera setelah berada ditempat baru dia akan segara bisa menikmati makanan lokal seperti menikmati makanannya sendiri. Dalam kondisi ini dapat diibaratkan seperti karet getas yang putus dengan cepat begitu ditarik sedikit (pindah lokasi). Ada juga yang fanatismenya tinggi sehingga butuh waktu dan proses yang panjang untuk sampai di kondisi seperti karet yang putus tersebut.

Proses adaptasi dari makanan negri sendiri ke makanan lokal sangat dipengaruhi oleh kondisi yang dihadapi oleh tiap individu. Salah satu parameter mungkin besarnya komunitas kelompok sebangsa dan senegara di tempat asing tersebut. Semakin besar komunitas tersebut, cara memperoleh makanan negri sendiri menjadi lebih mudah, sehingga proses adaptasi menjadi lebih lama. Mahasiswa yang berasal dari Vietnam merupakan komunitas yang relatif besar di kampus saya. Secara kolektif kadang-kadang beberapa material masakan yang sulit ditemukan di Korea mereka impor langsung dari negara asalnya. Sampai saat ini masih ada beberapa teman yang selalu memasak makanannya walaupun telah lama tinggal di Korea. Bagi yang tidak mempunyai komunitas yang memadai, proses adaptasi makanan ini relatif jauh lebih cepat. Proses adaptasi ini bagi saya seperti proses evolusi kebiasaan makan (hhmmm.. koq jadi teringat bapak Charles Darwin dengan burung-burung Finch-nya ya? :))

Proses adaptasi ini tidak selalu merupakan proses satu arah saja yang berakhir pada penerimaan makanan lokal secara mutlak. Ada kalanya berbalik arah seperti pengalaman saya. Segera setelah saya tiba di Korea, saya berusaha menikmati makanan Korea sebagai makanan sehari-hari saya, yang berjalan mulus untuk beberapa lama. Itu dapat terjadi terutama karena dua hal: saya mencoba tidak terlalu fanatik terhadap makanan negri sendiri dan berpikir bila untuk mencoba makanan lokal sebagai pengalaman yang menyenangkan; tidak ada teman sesama indonesia yang bisa saya ajak masak bersama saya dan saya terlalu malas untuk masak sendiri.

Tetapi segera setelah beberapa mahasiswa Indonesia bergabung di kampus saya, saya mengalami proses evolusi berbalik arah. Jika sebelumnya makanan Korea untuk saya terasa enak-enak saja, setelah cukup jumlah orang dan mulai masak sendiri sekali-sekali, makanan Korea terasa tidak enak lagi tetapi masih bisa saya terima sebagai pilihan kedua. Sekarang frekuensi konsumsi makanan Korea dan makanan Indonesia menjadi relatif seimbang.

Kembali ke perumpamaan karet, pengalaman saya mungkin seperti karet yang elastis dan ditarik panjang hampir mendekati putus; tetapi sesaat sebelum putus, tarikan tersebut dikendorkan. Yang terjadi adalah karet tersebut tidak kembali ke keadaan semula tetap menjadi sedikit lebih panjang dari sebelumnya. Inilah kondisi dimana terjadi asimilasi dimana proses external (keharusan menerima makanan lokal) mengubah sifat asal sehingga dihasilkan kompromi untuk mengakomodasi kedua kondisi tersebut.

Saya kira, setiap orang yang berada bukan di negara asalnya akan mengalami proses evolusi makanan ini. Hanya saja, tergantung fanatisme awal dan kondisi yang dihadapi, hasil akhir apakah makanan lokal sepenuhnya dapat diterima dan meninggalkan makanal asalnya; penerimaan makanan lokal sebagai makanan utama bersama makanan asal; atau pun tetap hanya mengkomsumsi makanan asal walau dengan konsekuensi segala kerepotan dan kesulitannya dapat bervariasi.

Penulis adalah mahasiswa PhD di Information and Communications University, Daejeon.


Actions

Information

3 responses

14 02 2007
sun

Halo ^^ saya mahasiswa baru di Yogya. Kebutulan say menemukan ‘website’ ini dan baca tulisan Anda. Saya juga sudah mengalami ‘proses evolusi makanan’. Sayangnya, saya ini tidak begitu pandai masak. Jadi sayay cukup senang aja makan cap cay, ayam ca jamur, ca kangkung, ayam bakar dan ikan bakar. Pasti Anda sekarang keroncongan denar nama-nama ini.. Saya juga kangen banget… makanan Korea.. Ini sudah 5 bulan di sisni dan akan ada di Yogya 3 tahun lagi. Selmat belajar di sana ya ! Jaga diri ya .. ^^

31 08 2007
lucifer

bisakah saya tau beberapa resep masakan dari nenek moyang yang ada di korea?
terutama makanan yang mengandung gizi dan tanaman apa saja yang memiliki manfaat penyembuhan penyakit? Mohon di balas secepatNYA kami tunggu.

17 08 2014
sex

Hey I know this is off topic but I was wondering if you knew of any widgets I could add to my blog
that automatically tweet my newest twitter updates.

I’ve been looking for a plug-in like this for quite some time and was hoping maybe you would have
some experience with something like this. Please let me know if you run into
anything. I truly enjoy reading your blog and I look forward to your new updates.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: