Spring Sonata

30 06 2006

Oleh: T. CHRISTOMY

SORE itu khas musim semi, bau tanah dan dedaunan tumbuh: terang benderang. “Coba tengok ke sana, Kang!” Dia menganga beberapa kejap saat matanya menyapu gaun-gaun gadis yang betisnya buligir. Menurut kawan saya, yang baru saja tiba di Seoul, gadis-gadis Seoul berhidung mancung dan berkaki lebih panjang dari orang Jepang.

Sejenak, saya teringat Susan Sontag yang menguraikan betapa “cantik” itu punya daya yang kuat. Bahkan, katanya, bisa menjadi berbahaya bagi yang empunya sendiri. Bahaya, karena, kecantikan itu sendiri bisa membuat wanita lupa pada wilayah sosial lainnya yang sebetulnya menarik dan kaya untuk dieksplorasi serta dapat membantu umat manusia. Betulkah? 

Teman saya berbisik, “Lupakan sejenak si kolumnis Sontag itu.” Kali ini, di bawah siraman cahaya matahari musim semi, dia malah memakai kacamata hitamnya manakala dua dara Korea lewat di depan kami dan mengambil kursi kosong yang jaraknya empat depa dari tempat kami.

Ingin saya membisikkan kepadanya, sebetulnya, gadis-gadis yang berseliweran yang renyah nan jelita itu, menurut mahasiswa saya, “Mungkin saja artificial.” Mahasiswi di Seoul, bisa saja berkata, “Liburan semesteran nanti, aku mau betulin hidung.” Pada kali yang lain berujar, “Musim dingin tahun depan aku harus operasi dagu” dan seterusnya. Tentu, biayanya bervariasi. Yang paling murah memperbaiki noda dan membetulkan alis dan ongkos paling mahal terkait payudara, dan yang lebih mahal dari itu mengubah lingkar wajah atau dagu supaya kelihatan lebih lonjong dan sebagainya. Urusan di sekitar payudara harganya 4.000-6.000 dolar AS. Untuk sedikit mengubah bentuk lingkar wajah bisa sampai 9 atau 10 ribu dolar bergantung siapa dokternya. Cukup mahal untuk sebagian mahasiswa, tapi tidak untuk anak orang kaya atau mereka yang melihat bongkar pasang sebagai investasi.

Saya tidak terlalu percaya, bisa saja mahasiswa saya memang sedikit iri dengan kecantikan mereka dan belum berhasil mendapatkan satu di antaranya. Yang pasti, paras cantik dan tinggi, selain mudah untuk mendapat teman hidup, juga mudah untuk mencari kerja. Cita rasa Korea tentang cantik berubah karena globalisasi. Globalisasi tidak semata merambah tatanan ekonomi tapi juga tatanan wajah.

Saat ini informasi dan cita rasa masuk ke wilayah batas yang sebelumnya tak terbayangkan. Ia tidak pilih-pilih. Ia menerjang siapa saja yang ada di jalurnya. Sebagian di antara “korban” bah tersebut mencari pegangan atau ditolong orang terdekat. Ia membedah ruang publik menjadi lebih luas dan terbuka, dan dengan sendirinya mudah diakses oleh berbagai pihak. Teknologi IT kemudian menyempurnakan keadaan ini.

Sebagian beruntung bisa menaiki gelombangnya dan berselancar di atasnya ke arah yang kita inginkan. Sebagian lain terempas pada bebatuan dan tersangkut pada ranting-ranting.

Playboy dan ingar bingar “kartun Denmark” pun cipratan “air bah” yang datang bukan dari antah berantah tapi dari sikap ekonomi yang senantiasa lapar pasar dan segala hal yang bisa dijual. Sebagian media tidak hanya menjajakan sensasi dan gosip, tapi juga menjajakan urusan kamar besar maupun kamar kecil, dan ruang-ruang kehidupan pribadi lainnya yang semula tersimpan rapat.

Instant Cash dan pragmatisme melekat di balik bisnis seperti itu. Menjual produk inovatif dan kreatif lebih sukar ketimbang menjajakan Playboy. Pembeli selalu menunggu dan antre. PSK di jalanan pun tahu betul kaidah bisnis seperti ini. Tidak harus menjadi cendekia untuk memahami trik bisnis ala Playboy.

Cita rasa berskala global acap menimbulkan kontras-kontras pemaknaan yang ironis dan lucu. Gaya hidup dan cita rasa baru seperti yang dialami sebagian gadis Korea pun menelikung sebagian kita tanpa basa-basi. Akibatnya, kadangkala sulit menyelaraskan takaran-takaran norma dengan kebutuhan untuk memenuhi gaya hidup tersebut.

“Kesulitan ekonomi” sering menjadi sihir yang sulit ditemukan penawarnya. Buktinya, para pekerja seks yang ditangkap selalu bilang, “Kesulitan ekonomi!” Padahal, Mak Erot dari pinggir Galunggung atau Mang Anu yang setiap malam harus jaga pintu kereta, dan guru-guru bantu di pedalaman pun kesulitan ekonomi. Kompetisi yang ketat meninggalkan korban yang tidak sigap. Dan seringkali kemiskinan menjadi pembenaran atas perbuatan yang tidak kita inginkan.

Tentu kita tidak ingin terlalu percaya pada hal ini karena depresi, asusila, permisif yang disebabkan melorotnya pencapaian materi ternyata merambah pula yang kaya dan miskin sekaligus. Akhir-akhir ini, ada kecenderungan bunuh diri meningkat di Korea. Banyak CEO Korsel bunuh diri saat dalam posisi finansial di puncak karena depresi, affair, dan korup. Padahal, dari takaran masyarakat awam, fasilitas dan kehidupan mereka lebih dari cukup.

Bertemu penyair

Cecep S. Hari memberikan kesempatan pada saya untuk membaca puisi-puisi made in Seoul-nya dengan mengirimkan satu puisinya. Cecep, selain terpesona oleh pembangunan Seoul juga “menyelinap” di belakang pencapaian duniawi itu ke wilayah batiniah.

Di Tepi Sungai Han

Setiap pagi hatiku melukis warna bibirmu
dan memuja tatapan matamu

Kau tak pernah bertanya aku di mana
sebab kau tahu aku selalu di sini

Di bawah langit musim semi
ketika surga menemukan buminya kembali

Di tepi Han-ga perahu-perahu diam menunggu
usiaku tak ada artinya dibandingkan alir sungai itu

Setiap pagi aku memuja tatapan wajahmu
dan melukis warna bibirmu

Seoul, April 2006

Sungai Han metafor utama untuk kendaraan kreatifnya. Cecep menorehkan pengalaman kreatifnya dengan mengeksploitasi imaji-imaji visual yang menubruk mata dan memesona penglihatannya. Lantas, Cecep menumpahkannya lewat imaji-imaji “warna”, “lukisan” “sungai”, dan mencoba masuk ke “kedalaman” cintanya Rumi.

Kurang lebih setahun yang lalu, Joko Pradopo, penyair dan kritikus dari Yogyakarta, pun berkunjung ke Seoul untuk sebuah seminar. Setelah seminar, panitia mengajak kami jalan-jalan ke luar kota dan bus kami harus menyeberangi salah satu jembatan di Sungai Han. Tiba-tiba, Pak Pradopo mengeluarkan pena dan menuliskan puisinya. Sayang saya tidak ingat persis kata demi katanya, tapi Beliau sempat menunjukkan isinya yang bertutur tentang ironi di kedalaman sungai Han itu.

Tapi biarlah, urusan komentar puisi saya serahkan lebih lanjut ke para kritikus kelak. Yang pasti, sampai tulisan ini dimuat, saya belum menceritakan “kisah lain” Sungai Han yang menjadi tumpuan inspirasi Cecep S. Saya tidak ingin memengaruhi pergumulan pertamanya. Selain itu, Cecep juga bisa mendapatkan cerita itu dari media.

** 

SEJAK mendengar untuk kali pertama kabar buram tentang sungai Han dari Pak Pradopo, setiap lewat sungai itu saya melihat kontras-kontras kehidupan di antara mimpi-mimpi manusia dan pencakar langit yang bayangannya jatuh di atas riaknya sungai.

Sungai Han membedah kota Seoul menjadi dua: bagian utara dan selatan. Di bagian selatan, dijejali gedung-gedung apartemen supermewah milik bintang film dan pengusaha. Sementara di sebelah utara, gedung-gedung tua berbata merah dari zaman awal kegemilangan industri. Gedung di Selatan lebih mahal daripada gedung di utara seloroh sebagian penduduk Seoul. Mengapa? Seandainya Korea Utara menyerbu, penduduk yang tinggal di selatan sungai Han, konon, masih punya cukup waktu untuk berkemas. Kota Seoul selalu dibayang-bayangi siaga satu. Kendati, pada saat yang sama, Seoul mencoba mengimbangi siaga satu itu dengan memanfaatkan berkah teknologi semikonduktor, LCD, pertanian intensif, industri berat, dan dengan sedikit tidur serta banyak bekerja.

Sungai Han membawa keberuntungan untuk masyarakat Seoul sejak Dinasti Joseon. Tapi untuk menikmatinya kadang tidak mudah. Muara Sungai Han di sebelah barat pun juga merupakan daerah operasi militer dan ajang infiltrasi Korut sampai sekarang. Bahkan beberapa tentara yang patroli di sekitarnya pun baru-baru ini dilahap muara sungai itu. Banjir bandang pernah menyikat penghuni di bantaran sungai. Selain itu, bagi pakar lingkungan, Sungai Han, yang sekarang menjelma sebesar Missisipi itu, contoh hubungan manusia dan alamnya. Semula sungai itu deras dan dijejali oleh batuan padas serta banyak memiliki pulau pasir. Karena kebutuhan pembangunan pada tahun 60-an, batu itu digerus untuk apartemen dan jembatan. Pernah juga, pada saat jam kerja yang padat, tiba-tiba jembatan yang penuh mobil itu berderak dan amblas membawa 30 orang ke dalam sungai.

Tapi yang menyedihkan, menurut Korean Times, pada tahun 2003 setidaknya 13.005 orang bunuh diri: 95 di antaranya tewas dengan cara melempar dirinya ke jalur kereta api bawah tanah, 65 orang mencoba meloncat ke sungai Han dan 41 orang di antaranya “sukses” menemui ajalnya (Korean Times, 20 Januari 2005).

 

Sabtu 22 April,

pukul 5 sore, Insadong

Sebagai penggemar kopi berat, saya senantiasa mencari tempat ngopi yang baru yang menyediakan kopi jenis arabika, syukur-syukur dapat kopi kalosi toraja. Kadang hanya ingin mencicipi racikan baru atau sekadar menikmati interior kedai kopi yang unik. Menurut rencana, sore itu, Cecep S. Hari akan mentraktir saya di sebuah kafe yang baru saja “ditemukannya”. Dari HP bekas yang baru dibelinya, Cecep dengan lantang mengatakan, “Kang hari ini saya yang akan traktir.” Saya tentu gembira, bukan hanya karena kopi gratis, tapi juga bisa mendengar olah kreatifnya selama di Seoul. Beberapa hari sebelumnya kami pernah mampir di “CB” dan “SB” tapi racikan kopi di kedai itu terlalu Amerika. Kali ini saya mencoba kedai yang lebih Italia atau Turki.

Janjinya, sekira pukul lima sore kami akan bertemu di sekitar Insadong sebuah jalan lurus di pusat kota yang sengaja ditutup untuk pejalan kaki yang ingin menikmati galeri, warung teh, atau sekadar ngopi sambil melihat lalu lalang putri-putri ginseng dan turis dari berbagai bangsa. Setelah satu jam, Cecep belum kelihatan, bahkan setelah dua jam pun tetap tak ada kabar. Akhirnya saya memutuskan untuk ngopi sendiri di Kedai Kopi Turki dan mencoba menuliskan hal-hal yang bisa saya kirimkan ke Bandung. Lantas, saya bergegas ke stasiun bawah tanah yang terletak 30 meter di bawah jalan raya, mencari jalan pulang ke apartemen.

Larut malam, saya buka internet dan menerima email dari Cecep dalam bahasa Sunda sbb:

… kang punten pisan tadi teh. siang-siang pas uih ka bumi, maos perkawis tki nu tewas dina razia imigrasi. saterasna abdi feeling bad mood all day…Ia minta maaf atas janjinya yang tak ditepatinya karena mood-nya tiba-tiba jelek setelah menerima kabar tewasnya seorang TKI setelah polisi imigrasi Kota Seoul menggerebek mereka.Menurut Bung Etsar, kawan saya yang kini tengah mengambil doktor dalam bidang filsafat, yang kebetulan punya kontak bagus dengan rekan-rekan TKI, Nur Fuadi (TKI asal Kendal, Jawa Tengah) tewas di rumah Sakit Bucheon, Provinsi Kyeongki, setelah jatuh dari lantai tiga saat polisi merazia pekerja di pabriknya pada tanggal 17 April 2006. Diperkirakan Nur Fuadi tidak memiliki izin kerja pada saat penggerebegan dan mencoba menghindar petugas tapi terpeleset.

** 

TENAGA kerja asing di Korea, sebagaimana Nur Fuadi, banyak yang terperangkap di antara dua kepentingan: polisi dan majikan. Pengusaha kadang menginginkan tenaga kerja murah dan ilegal dari Indonesia. Pada saat yang sama, polisi mengejar-ngejar mereka. Diperkirakan sejumlah pabrik dan pertanian mempekerjakan 400-500 ribu tenaga kerja asing termasuk dari Indonesia yang merupakan kedua terbesar setelah Cina. Konon hanya 180 ribu pekerja asing yang legal. Banyak di antara kita ingin mengetahui apa perasaan Nur Fuadi ketika mencoba lari dan meloncat ke luar gedung untuk meraih pegangan di bagian gedung yang lain. Barangkali, Nur Fuadi memikirkan kehidupannya, memikirkan rencana-rencanya, memikirkan keluarga dan handai taulannya.

Tewasnya Nur Fuadi berbeda dengan tewasnya bekas presiden Daewo Engineerng & Construction, Nam Sang-kook, atau Ketua Hyundai Asan Corp, dan Gubernur South Cholla Park Tae-young yang semuanya loncat ke Sungai Han karena berbagai skandal keuangan. Tewasnya Nur Fuadi, berbeda pula dengan tewasnya Lee Eun-je artis cantik Korea yang sering berpose berani.

Nur Fuadi gagal menggapai pegangan. Dia meluncur dari lantai tiga dan jatuh di bebatuan. Nur Fuadi tewas saat mencari nafkah yang sukar diraihnya di Indonesia. Innalillahi.*** 

Penulis, Pengajar di UI dan HUFS Seoul, email: tsx60@yahoo.com.
Cerita ini dimuat di harian Pikiran Rakyat tanggal 24 Maret 2006
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/062006/17/khazanah/lain03.htm


Actions

Information

One response

31 12 2007
eka

saya teramat sangat takjub dengan kemajuan perekonomian dan kedinamisan korea selatan.tiap saat pertanyaan slalu muncul dibenak saya.kapan negara kita tercinta ini bisa seperti itu???
dan tiap saat juga saya slalu mengupayakan hal itu.saya mulai dari diri sendiri kemudian memotivasi orang lain.tapi setelah membaca artikel bapak, ketakutan mulai muncul dalam benak saya.akankah imbas kemajuan yang terjadi di korea selatan juga akan terjadi dinegara ini apabila maju nantinya.pertanyaan baru kini muncul.bagaimana caranya negara tercinta maju tanpa kehancuran moral dan mental rakyatnya???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: